Pendahuluan
Latar Belakang masalah
Sudah beberapa tahun ini masalah gizi kurang masih kerap terjadi khususnya di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2010, 35,7 persen anak Indonesia pertumbuhan tingginya tidak sesuai dengan umur atau dalam kategori pendek. Riskesdas 2010 juga menemukan tingkat prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 17,9 persen atau diperkirakan sekitar 3,7 juta balita mengalami kekurangan gizi kurang dan gizi buruk.
Gizi kurang biasanya ditemukan pada anak-anak. Penyebab langsung dari gizi kurang adalah akibat kekurangan asupan zat gizi dan akibat menderita penyakit infeksi. Selain itu ada hal lain yang juga mempengaruhi yaitu pola asuh, pola perawatan, perilaku kesehatan, keadaan ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan serta pengetahuan ibu. Akibat penurunan status gizi akan berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, kecerdasan, pemeliharaan kesehatan dan aktivitas anak.
Oleh karena itu, salah satu bentuk upaya dari pemerintah adalah mengadakan Posyandu yang bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil, melahirkan dan nifas), membudayakan NKKBS, meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
Posyandu merupakan salah satu sarana yang mendukung dalam mengurangi gizi kurang serta juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk tukar menukar informasi, pendapat dan pengalaman serta bermusyawarah untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi baik masalah keluarga ataupun masyarakat itu sendiri.
Namun, penanganan terhadap masalah gizi di masyarakat melalui Posyandu ternyata belum berjalan dengan baik dan pola penanganan dalam mengatasi masalah gizi kurang maupun gizi buruk juga belum optimal. Di Posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai suatu aksi gizi, masih sekedar hanya untuk mengisi kegiatan Posyandu saja, belum sampai pada substansi PMT itu sendiri yakni meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita mengalami tumbuh kembang yang sehat.
Dengan adanya pola pendampingan gizi secara langsung, terprogram dan berkelanjutan merupakan langkah kebijakan gizi yang harus kita jalankan. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa perilaku gizi merupakan perilaku sosial yang kana lebih mudah diubah dengan adanya dukungan sosial melalui pendampingan tersebut.
Dari sinilah peranan kontribusi kader gizi di posyandu sangatlah besar dan diharapkan mampu untuk membantu pemerintah dalam mengatasi penanganan gizi kurang yang ada di Indonesia, yaitu dengan melakukan pendampingan agar masyarakat menjadi sadar gizi. Melalui pendampingan ini akan membuat masyarakat memiliki wadah yang bisa mengatasi masalah gizi serta meningkatkan status gizi.
Pernyataan tentang masalah di desa X kecamatan Y
•Kurangnya pengetahuan kesadaran gizi di kalangan masyarakat
•Ketidakpedulian masyarakat mengenai gizi seimbang
•Rendahnya pengetahuan tentang Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
•Faktor ekonomi keluarga
•Sarana dan prasarana yang kurang memadai
•Jumlah kader gizi yang terbatas
Tujuan yang ingin dicapai
Mengurangi prevalensi gizi kurang dan memajukan kesejahteraan kesehatan di desa X kecamatan Y.
Metodologi untuk memecahkan masalah
Menganalisis ada atau tidaknya pemberdayaan kader-kader gizi di desa X kecamatan Y. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dan data dari dinas kesehatan. Lalu, pemberdayaan kader melalui pelatihan, serta pengadaan alat masak dan kebutuhan operasional. Pelatihan diberikan dengan metode ceramah, simulasi, diskusi, dan tanya jawab.
1. Tujuan umumMeningkatkan status gizi masyarakat di desa X kecamatan Y selama 3 bulan dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
2. Tujuan khusus Menurunkan prevalensi gizi kurang di desa X kecamatan Y dari 35% di bulan september 2011 menjadi 28% di bulan desember 2011.
Oraganisasi
Sturktur organisasi
Rincian tugas
•Penanggung Jawab yaitu bertanggung jawab penuh atas kegiatan
•Ketua bertindak sebagai koordinator dari semua kegiatan
•Sekretaris bertugas untuk mencatat, mengumpulkan data, dan membantu pekerjaan ketua.
•Bendahara bertugas mengelola dana untuk kegiatan
•Sie acara terdiri dari lintas sektor dan lintas program yang bertugas untuk melatih kader-kader
•Sie perlengkapan bertugas mempersiapkan semua peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan
•Sie humas & publikasi bertugas untuk mensosialisasikan kegiatan ke para kader maupun ke masyarakat serta mendokumentasikan kegiatan
•Sie konsumsi bertugas mempersiapkan dan mengelola konsumsi untuk kegiatan
•Sie keamanan bertugas untuk menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung
Latar Belakang masalah
Sudah beberapa tahun ini masalah gizi kurang masih kerap terjadi khususnya di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2010, 35,7 persen anak Indonesia pertumbuhan tingginya tidak sesuai dengan umur atau dalam kategori pendek. Riskesdas 2010 juga menemukan tingkat prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 17,9 persen atau diperkirakan sekitar 3,7 juta balita mengalami kekurangan gizi kurang dan gizi buruk.
Gizi kurang biasanya ditemukan pada anak-anak. Penyebab langsung dari gizi kurang adalah akibat kekurangan asupan zat gizi dan akibat menderita penyakit infeksi. Selain itu ada hal lain yang juga mempengaruhi yaitu pola asuh, pola perawatan, perilaku kesehatan, keadaan ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan serta pengetahuan ibu. Akibat penurunan status gizi akan berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, kecerdasan, pemeliharaan kesehatan dan aktivitas anak.
Oleh karena itu, salah satu bentuk upaya dari pemerintah adalah mengadakan Posyandu yang bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil, melahirkan dan nifas), membudayakan NKKBS, meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
Posyandu merupakan salah satu sarana yang mendukung dalam mengurangi gizi kurang serta juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk tukar menukar informasi, pendapat dan pengalaman serta bermusyawarah untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi baik masalah keluarga ataupun masyarakat itu sendiri.
Namun, penanganan terhadap masalah gizi di masyarakat melalui Posyandu ternyata belum berjalan dengan baik dan pola penanganan dalam mengatasi masalah gizi kurang maupun gizi buruk juga belum optimal. Di Posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai suatu aksi gizi, masih sekedar hanya untuk mengisi kegiatan Posyandu saja, belum sampai pada substansi PMT itu sendiri yakni meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita mengalami tumbuh kembang yang sehat.
Dengan adanya pola pendampingan gizi secara langsung, terprogram dan berkelanjutan merupakan langkah kebijakan gizi yang harus kita jalankan. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa perilaku gizi merupakan perilaku sosial yang kana lebih mudah diubah dengan adanya dukungan sosial melalui pendampingan tersebut.
Dari sinilah peranan kontribusi kader gizi di posyandu sangatlah besar dan diharapkan mampu untuk membantu pemerintah dalam mengatasi penanganan gizi kurang yang ada di Indonesia, yaitu dengan melakukan pendampingan agar masyarakat menjadi sadar gizi. Melalui pendampingan ini akan membuat masyarakat memiliki wadah yang bisa mengatasi masalah gizi serta meningkatkan status gizi.
Pernyataan tentang masalah di desa X kecamatan Y
•Kurangnya pengetahuan kesadaran gizi di kalangan masyarakat
•Ketidakpedulian masyarakat mengenai gizi seimbang
•Rendahnya pengetahuan tentang Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
•Faktor ekonomi keluarga
•Sarana dan prasarana yang kurang memadai
•Jumlah kader gizi yang terbatas
Tujuan yang ingin dicapai
Mengurangi prevalensi gizi kurang dan memajukan kesejahteraan kesehatan di desa X kecamatan Y.
Metodologi untuk memecahkan masalah
Menganalisis ada atau tidaknya pemberdayaan kader-kader gizi di desa X kecamatan Y. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dan data dari dinas kesehatan. Lalu, pemberdayaan kader melalui pelatihan, serta pengadaan alat masak dan kebutuhan operasional. Pelatihan diberikan dengan metode ceramah, simulasi, diskusi, dan tanya jawab.
1. Tujuan umumMeningkatkan status gizi masyarakat di desa X kecamatan Y selama 3 bulan dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
2. Tujuan khusus Menurunkan prevalensi gizi kurang di desa X kecamatan Y dari 35% di bulan september 2011 menjadi 28% di bulan desember 2011.
Oraganisasi
Sturktur organisasi
Rincian tugas
•Penanggung Jawab yaitu bertanggung jawab penuh atas kegiatan
•Ketua bertindak sebagai koordinator dari semua kegiatan
•Sekretaris bertugas untuk mencatat, mengumpulkan data, dan membantu pekerjaan ketua.
•Bendahara bertugas mengelola dana untuk kegiatan
•Sie acara terdiri dari lintas sektor dan lintas program yang bertugas untuk melatih kader-kader
•Sie perlengkapan bertugas mempersiapkan semua peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan
•Sie humas & publikasi bertugas untuk mensosialisasikan kegiatan ke para kader maupun ke masyarakat serta mendokumentasikan kegiatan
•Sie konsumsi bertugas mempersiapkan dan mengelola konsumsi untuk kegiatan
•Sie keamanan bertugas untuk menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung